Yaa,, balik lagi dengan saya disini,, #halaah
Hahaha,, Jadi,, hari ini saya mau bercerita tentang mereka. Mereka yang slalu membuat saya ketawa sekaligus sedih secara berbarengan *bingung ya? Sama,, saya juga bingung :p*. Mereka yang slalu saya tunggu2 guyonan-guyonannya, mereka yang slalu (hampir) tiap hari adaaaaa aja hal-hal yang diributkan. Mereka yang slalu saling support disaat ‘mereka yang lain’ sedang down. Mereka yang saling membantu ‘mereka yang lain’ yang butuh bantuan. Mereka yang tlah mengajarkan ‘mereka yang lain’ banyak hal di dunia ini, walaupun mereka belum pernah bertemu. Mereka yang candanya bagai oase di padang pasir. Mereka yang disaat sedihnya pun masih bisa berbagi dengan ‘mereka yang lain’. Mereka yang beberapa hari ini membuat saya terpingkal-pingkal membaca obrolan super geje mereka. Mereka juga yang beberapa hari ini membuat saya merenung banyak tentang hari-hari kemaren. Mereka yang saat ini ‘ceritanya’ sedang saya tulis disini. Mereka yang terbaik dari ‘semua yang hal terbaik yang saya punya’ di dunia ini. Mereka yang saat ini sedang saya rindukan. Yaa, mereka,,,, keluarga baru saya.. @allchatboxrise..
Ga pernah ngebayangin bakal punya keluarga baru seperti mereka, Keluarga baru yang lahir dari pertemanan dunia maya. Iya, dunia maya, dunia dimana (mungkin)penuh dengan kebohongan-kebohongan belaka. Tapi mereka lain,, saya yakin banget dari awal ketemu mereka di salah satu jejaring social. Yaa, kita semua dipertemukan oleh/karena seorang bocah berumur 13tahun melalui dunia maya.. entah ini sebuah scenario dari Yang Maha Kuasa, entah memang hanya sebuah ‘kebetulan ‘ belaka. Tapi saya ga percaya dengan yang namanya kebetulan,. Yang saya yakini,, kita memang sudah ditakdirkan untuk bertemu /berhubungan/apapun itu ketika masih dilahul mahfuz sana, dan bocah itu hanya sebagai media perantara saja.. daan seperti yang dikatakan oleh Harun Yahya, “menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan”. So, ga ada yang namanya kebetulan di dunia ini, Allah udah mengaturnya dengan sedemikian rupa. Hahaha, that’s just my opini J.
Entah apa jadinya sekarang, kalo hari itu ga pernah ada? Yaa, kalo aja hari itu,,, hari dimana saya mengenal salah satu acbr, budoc moutch, ga pernah terjadi. Mungkin saya gabakalan punya keluarga baru ini, yang canda tawa dan suka dukanya slalu saya tunggu.. Mungkin updetan saya di twitter hanya tweet2 geje ga bermakna (kaya yg sekarang ngga aja) ato mungkin malah acc twitter saya udah di deactivekan(?), mungkin saya gabakal kenal dengan budoc galau and partner in crimenya, gabakal kenal dengan mba apoteker, gabakal kenal dengan teteh so sweet dan teteh jagoan gapake rok, gabakal kenal dengan para marga dol bandung - jakarta and ‘adik2an’ nya, gabakal kenal dengan si mba dari tegal dan si mba dari sidoarjo, gabakal kenal dengan ‘om2’ penganut narsisme sejati, gabakal kenal dengan ‘partner in crime’ ngitungin cecek, gabakal kenal dengan kaka yg puitis abis, gabakal kenal dengan tante clurit, gabakal kenal dengan kaka pendukung belanda waktu Worldcup kemaren :p, gabakal kenal dengan abang sarjana hukum, gabakal kenal dengan tante2 yg ngaku bocah 19th, gabakal kenal bocah smp yang penuh tanda seru dan jago gambar, gabakal kenal dengan orang Palembang yg jago nulis, gabakal kenal dengan uni2 yang lebaran kemaren (katanya) mau tanding bikin rendang :p, gabakal kenal kaka begadangerz, pokoknya mungkiiin gabakal kenal dengan mereka semua!! Dan saya bersyukur bisa mengenal mereka,, walaupun baru 4bulan, tapi rasanya udah kaya bertahun-tahun mengenal mereka..
“aku mengenal dikau
tak cukup lama,
separuh usiaku.
Namun begitu banyak pelajaran,
yang engkau berikan”
(Mereka dimata saya seperti lirik lagu diatas ,lagu yang pernah dinyanyikan bocah itu)
Dan saat ini,, saya benar-benar merindukan mereka, merindukan candaan mereka yg super geje, merindukan tweet2 super galau dari para galau-ers :p, merindukan ledekan2 gabanget tapi okehbanget untuk bisa bikin ketawa2 geje, merindukan tweet2 super keren ketika mereka mulai menujukan rasa care-nya untuk bocah itu, merindukan ‘perebutan adek2an’ yang kadang berujung dengan celaan, merindukan petuah-petuah bijak dari para sesepuh :p, merindukan tweet2 mulai dari yang gapenting sampe penting banget di timeline saya, merindukan saat2 mereka berbagi harta karun. merindukan saat2 dimana jarak ‘bener2 ga ada’ diantara kami,, intinya saya merindukan semua yang ada pada merekaa. Gabisa dipungkiri memang kalo kita terpisah ruang dan waktu. Ada jarak yang memisahkan kita, jauuuuuuuuuuuuh banget, dan itu sangat nyata. Ahh,, udahlah, abaikan jarak itu. Anggap dia ga pernah ada. Emmm, meskipun kita berjarak, kalian slalu deket di hati kq. Yaa, mereka udah punya tempat khusus di hati saya dan ga ada satupun yang bisa mengusiknya.
Oiya,, nih salah satu ungkapan rindu yang okehbanget, yang saya kutip _punyanya ka bulbul_ dan ini daleem banget (menurut saya).
“Untuk sebuah rindu, barangkali aku harus membayarnya dengan jarak.
Meski mungkin seandainya hanya terpisah lorong yang dari ujung sebelah sana masih dapat terlihat bayang-bayang kalian.
Meski mungkin seandainya hanya terpisah lorong yang dari ujung sebelah sana masih dapat terlihat bayang-bayang kalian.
Kalian tahu. Aku akan tetap rindu.
Kemudian kalian menampakkan diri malam ini. Hanya berupa sekelebat bayangan.
Kemudian kalian menampakkan diri malam ini. Hanya berupa sekelebat bayangan.
Samar. Abstrak.
Tapi aku masih sanggup mengenalinya. Itu kalian kan?
Pernah, jika aku menutup pintu dan jendela kamar.
Pernah, jika aku menutup pintu dan jendela kamar.
Menghilangkan jarak diantara kita. Supaya kalian hilang.
Agar kalian tidak diam-diam menyusup melalui ventilasi, mengusik malam-malamku.
Tiba-tiba aku mendengar Tuhan berkata : “Berhentilah mengaduh pada jarak.“
Aku pikir aku seharusnya menyembunyikan rindu ini.
Biar menjadi rahasia. Antara lampu temaram di kamar dan kilauan rindu yang terpantul di mataku.
Agar tak ada yang tahu bahwa AKU RINDU KALIAN.
Namun, belakangan aku tahu, penafsiranku sedikit meleset.
Bahwa yang berjarak tidak harus selalu terus menerus meletupkan potensi perih yang menyakiti.
Maka sejak itu, aku berhenti merutuki jarak.
Kita berjarak. Namun dengan itu aku tahu rasanya rindu.
Menyesapnya perlahan, kemudian mabuk dalam deras alirannya.”
Daan,, satu lagi,, emmm,, apayaa namanya. Pengharapan? Ato sebuah doa? Yaa,, apapun itu. Ini saya kutip dari kado yang saya buat waktu ulbul yang ke-3 (kalo gasalah).
Mungkin bukan untaian kata-kata indah yang bias diberikan, bukan juga kata tanpa makna. Mungkin hanya sebait doa untuk kalian yang terkasih,, “jaga tali silaturahmi dalam persahabatan ini ya, sobat. Apapun yang ada didalamnya,, entah itu senang, sedih, canda, tawa, maupun suka duka, jadikan itu semua sebagai tonggak persahabatan kita. Even ‘eternity’ and ‘perfection’ doesn’t exist in this world, but our friendship stay through in our heart,, forever”
Dedicated to @allchatboxrise
Nb: really miss you guys,, :’). Sorry, lagi ga bias onlen di twitter. Bukan ga mau, tapi lagi bener2 gabisa. Butuh waktu untuk merenungi semua yang udah terjadi. Menghilang bukan bermaksud untuk menghindar apalagi untuk melupakan.. Dan ini bukan tentang kalian saya jadi menghilang, this is just about myself,, something wrong with myself,, and I‘ve to go to somewhere.. hhh, hard to say,,, but.. goodbye fellas J, see you next time (maybe) OR tomorrow I will back again??.. Ya, who’s know??
Somewhere, 08-10-2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar